MENDAKI SEBAGAI FONDASI KEBERSAMAAN ANTAR RELAWAN

Perkenalkan, saya Faira. Awal mula mengenal Solidaritas Relawan Kemanusiaan (SRK) adalah saat mengikuti kegiatan Training for Volunteers. Dari kegiatan tersebut saya mulai mengenal lingkungan relawan, belajar banyak hal baru, dan perlahan mulai merasa tertarik untuk ikut lebih aktif dalam kegiatan yang dilakukan bersama teman-teman SRK. Sampai akhirnya saya mendapat kesempatan untuk ikut dalam kegiatan Camping Relawan yang diselenggarakan oleh SRK YKBS.

Pada tanggal 20–21 Juni 2026, SRK YKBS mengadakan Camping Relawan di Lereng Arjuno, tepatnya di Puthuk Lesung yang berada di ketinggian 1.470 mdpl. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 10 relawan. Awalnya saya mengira kegiatan ini hanya sekadar berkemah dan menikmati suasana alam, tetapi ternyata saya mendapatkan pengalaman yang jauh lebih berharga dari itu.

Perjalanan dimulai saat langit perlahan berubah menuju senja. Cahaya matahari yang mulai redup menemani langkah kami menapaki jalur pendakian. Di awal perjalanan suasana masih dipenuhi obrolan ringan dan candaan, tetapi semakin berjalan saya mulai menyadari bahwa pendakian bukan hanya tentang mencapai tujuan di atas, melainkan tentang bagaimana kami saling berjalan bersama.

Di sepanjang perjalanan, setiap orang memiliki ritme dan kemampuan yang berbeda. Ada yang berjalan cepat, ada yang perlu beberapa kali berhenti untuk mengatur napas, ada yang lebih banyak diam menikmati suasana. Namun tidak ada yang berjalan sendiri. Kami belajar menyesuaikan langkah, saling menunggu, membantu membawa barang ketika ada yang kelelahan, dan memastikan semua bisa sampai bersama. Dari hal sederhana seperti itu saya mulai memahami bahwa kebersamaan bukan hanya soal berada di tempat yang sama, tetapi tentang bagaimana setiap orang mau saling peduli selama perjalanan.

Saat malam tiba dan tenda sudah berdiri, suasana berubah menjadi lebih hangat. Kami mengadakan malam keakraban dengan duduk bersama, berbincang santai, saling bercerita, dan tertawa bersama. Tidak ada agenda besar atau pembahasan yang formal, tetapi justru dari momen sederhana seperti itu saya merasa mulai mengenal teman-teman relawan lebih dekat. Saya mulai memahami bahwa di balik setiap orang yang hadir ada cerita, pengalaman, dan alasan masing-masing mengapa memilih menjadi relawan.

Bagi saya, kegiatan ini juga membuka cara pandang baru tentang menjaga lingkungan. Sebelum mengikuti Camping Relawan, saya menganggap menjaga kebersihan cukup dilakukan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Namun selama kegiatan ini saya belajar bahwa menjaga alam ternyata tidak sesederhana itu.

Saya belajar bahwa setiap sampah memiliki cara pengelolaan yang berbeda. Sampah organik seperti kulit kentang dan kulit wortel kami kembalikan ke tanah karena masih dapat terurai secara alami. Sedangkan seluruh sampah non-organik seperti plastik dan kemasan kami kumpulkan untuk dibawa turun agar tidak mencemari kawasan pendakian. Dari situ saya menyadari bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tentang membuang pada tempatnya, tetapi juga memahami tanggung jawab atas apa yang kita bawa ke alam.

Keesokan paginya, setelah seluruh perlengkapan dibereskan dan tenda dipacking, kami tidak langsung turun begitu saja. Sebelum meninggalkan lokasi camp, kami membersihkan area sekitar dan memastikan tidak ada sampah yang tertinggal. Setelah itu perjalanan turun dilakukan sambil membawa trashbag yang dibagi ke beberapa relawan untuk mengumpulkan sampah yang kami temui di sepanjang jalur.

Di tengah perjalanan kami bertemu dengan seorang petani kopi yang memberikan apresiasi atas apa yang kami lakukan. Beliau menyampaikan bahwa alam ini seharusnya tetap dijaga kebersihannya karena menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang. Kalimat itu sederhana, tetapi cukup membuat saya berpikir bahwa menjaga alam bukan hanya untuk pendaki atau relawan, melainkan untuk semua orang yang hidup dan bergantung padanya.

Namun, momen yang paling membekas bagi saya justru terjadi saat perjalanan turun. Ketika kami memungut sampah satu per satu di sepanjang jalur, beberapa pendaki yang berpapasan mulai ikut membantu. Tidak ada ajakan, tidak ada instruksi, dan tidak ada yang meminta mereka melakukannya. Mereka hanya melihat, lalu ikut bergerak.

Saat itu saya menyadari bahwa kepedulian ternyata memiliki daya menular. Kadang perubahan tidak selalu dimulai dari hal besar atau kampanye yang ramai. Terkadang cukup dengan satu tindakan sederhana yang dilakukan dengan konsisten, lalu orang lain melihat dan ikut tergerak.

Dari Camping Relawan SRK ini saya belajar bahwa mendaki bukan sekadar perjalanan menuju puncak. Mendaki menjadi ruang belajar untuk membangun kebersamaan, melatih kepedulian, dan memperkuat rasa kekeluargaan antar relawan. Perjalanan ini mengajarkan bahwa menjadi relawan bukan selalu tentang hadir di situasi besar atau melakukan hal yang luar biasa, tetapi tentang keberanian untuk memulai dari tindakan kecil yang memberi dampak bagi sekitar.

Dan mungkin, dari langkah-langkah kecil itulah rasa peduli dan semangat kemanusiaan terus tumbuh dan diteruskan kepada orang lain.

By : Hafsah Shufairaa (Mahasiswa Unesa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *