Lebih Dari Sekadar Menolong: Refleksi Menjadi Relawan Kemanusiaan

“Menjadi relawan kemanusiaan ternyata tidak hanya sekedar soal datang, membantu,

lalu pulang. Namun di balik itu semua, ada banyak hal yang dipelajari, terutama soal komunikasi dan cara memahami kondisi masyarakat”

Perkenalkan, saya Josephine. Di kesempatan kali ini saya mengikuti kegiatan “Training for Volunteer : Analisis Komunitas di Wilayah Bencana” yang diselenggarakan oleh SRK (Solidaritas Relawan Kemanusiaan) selama 3 hari 2 malam (tgl 15-17 Mei 2026) di Wisma Kartini, Pacet.Berawal dari teman saya, Reva, yaitu seorang relawan SRK yang memposting di sosial media nya sehingga saya tertarik untuk bergabung di kegiatan tersebut.

Kegiatan dimulai pada hari Jumat tgl 15 Mei 2026, yg dimana diawali dengan perkenalan terlebih dahulu melalui games supaya lebih mengenal satu sama lain, setelah itu dilanjut oleh sesi pemateri. Di hari pertama ini, materi yang dibahas yaitu tentang “Komunikasi Relawan Kemanusiaan” yang dibawakan oleh Bapak G. Edwi Nugrohadi. beliau adalah Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Beliau menjelaskan di materi ini terbagi menjadi 3, yaitu Komunikasi Interpersonal, Komunikasi  Intrapersonal, dan Komunikasi Organisasional. Beliau juga menjelaskan Komunikasi Interpersonal dan Intrapersonal itu berbeda. Komunikasi Interpersonal itu berkaitan dengan cara relawan berinteraksi langsung dengan oranglain, sedangkan Komunikasi Intrapersonallebih mengarah pada “self talk” atau refleksi diri. Relawan diajak untuk bertanya ke dirinya sendiri tentang motivasi alasan kenapa mereka mau menjadi seorang relawan? nilai apa yang mereka perjuangkan? dan harapan apa yang mereka miliki sampai bagaimana mereka menghadapi rasa lelah selama menjalankan kegiatan kemanusiaan?.

Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa menjadi seorang relawan harus bisa berkomunikasi secara rasional, empatik, solutif, dan suportif. Mengapa seperti itu? karena relawan dituntut untuk tetap pakai logika saat mengambil keputusan, namun juga harus punya empati terhadap kondisi korban atau masyarakat yang dibantu. Jadi yang saya simpulkan secara keseluruhan di materi ini  menunjukkan bahwa menjadi seorang relawan kemanusiaan bukan hanya tentang aksi sosial tetapi juga tentang proses memahami diri, menjaga kesehatan mental, membangun komunikasi yang baik, dan memiliki motivasi kuat agar bisa bertahan dalam membantu sesama.

Di hari berikutnya pada hari Sabtu tgl 16 Mei 2026, kami masih diberikan sebuah pemaparan materi, akan tetapi kami juga melakukan exposure secara berkelompok. Pemaparan materi di hari kedua ini dibawakan oleh Bapak Andridan Bapak Wisnu yg dimana beliau menjelaskan tentang “Langkah-langkah Analisa Sosial & Akses IPOLEKSOSHANKAM”.Beliau menjelaskan bahwa analisa sosial itu penting banget buat relawan, terutama saat turun ke masyarakat/lokasi bencana. Mengapa? karena relawan tidak hanya diminta melihat apa yang terjadi di lapangan, tetapi juga harus paham apa masalah itu bisa terjadi dan siapa yang paling berdampak. Di dalam langkah-langkah analisa sosial ini, relawan diajak untuk memahami terlebih dahulu nilai dan tujuan nya lalu mengumpulkan data dan fakta di lapangan. Setelah data itu sudah ditemukan, lalu diolah lagi sampai mendapatkan akar permasalahan nya yaitu dari sosial budaya, ekonomi, politik, ekologi, ideologi, hukum yang mempengaruhi kondisi masyarakat tersebut.

Setelah memahami isi pemaparan materi yang dibawakan oleh Pak Andri & Pak Wisnu, kami semua termasuk saya bersama teman-teman kelompok saya langsung melakukan exposure, yg kebetulan kelompok saya mendapat bagian dengan menemuni sekaligus berbincang bersama Pengurus Gema Duta yg bernama Bapak Priya Kusuma. Data permasalahan yang kami dapatkan yaitu, aksi perjuangan masyarakat di lereng Arjuna-Welirang melawan proyek real estate seluas 22,5 hektar yang dianggap sebagai kolonialisme gaya baru yang menyoroti dampak lingkungan serta mengupayakan dukungan dan respon dari pemerintah daerah. Dengan rasa ketidakpuasan, kelompok saya memutuskan untuk melakukan investigasi langsung ke kawasan terdampak deforestasi di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Disatu sisi, mata dan hati ditenangkan oleh hamparan alam hijau lereng Arjuna-Welirang yang membentang luas. Akan tetapi disisi lain, sebuah bangunan megah yang berdiri kokoh mulai merusak pemandangan. Bangunan baru tersebut telah mengalihfungsikan kawasan yang dulunya pos pendakian serta tempat penangkaran rusa dan kuda. Kami juga menelusuri ke  Bumi Perkemahan Kakek Bodo dan bertemu dengan warga Desa Pencalukan  yaitu Ibu Titin (40tahun) dan Ibu Narti (80tahun) penjaga warung. Bagi Ibu Titin dan Ibu Narti, Hutan Tretes adalah Ruang Hidup. Sebagai daerah yang 100% masyarakat nya bergantung pada sektor pertanian khususnya kopi dan rencana akan dialihkan fungsi lahan masal 22,5 hektar (setara 34 lapangan sepak bola) oleh pihak swasta memicu kebingungan massal dan jika deforestasi total benar-benar teralisasi, mereka akan kehilangan mata pencaharian tanpa tahu harus mencari sumber penghidupan dimana lagi.

Di hari terakhir pada hari Minggu tgl 17 Mei 2026, semua kelompok yang sudah melakukan exposure kemarin mempresentasikan hasil assement dari masing-masing kelompok nya. Dibalik benar ataupun salah, disini saya dan teman-teman saya  belajar bahwa bencana bukan soal alam tapi berkaitan dengan ketidakadilan sosial dan biasanya kelompok yang paling berdampak itu adalah masyarakat yang tidak punya akses dan kekuatan. Jadi, relawan perlu melihat situasi secara lebih dalam, tidak hanya mendata jumlah korban atau kerusakan saja dan relawan harus belajar berfikir secara kritis, objektif, dan tidak asal menyimpulkan kondisi masyarakat.

By : Amanda Josephine (peserta Training for Volunteers)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *