Jejak Kemanusian di Pulau Flores

Bencana alam merupakan peristiwa yang berada di luar kendali manusia. Gempa bumi, tsunami, dan berbagai bencana alam lainnya dapat terjadi secara tiba-tiba dan menimbulkan dampak besar bagi kehidupan manusia. Meskipun teknologi terus berkembang dan mampu membantu memprediksi atau memberikan peringatan dini terhadap sejumlah bencana, manusia tetap memiliki keterbatasan dalam menghadapi kekuatan alam. Pada 15 Agustus 2026, tepatnya pukul 05.58 WITA, Pulau Flores, salah satu pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dilanda gempa bumi dengan magnitudo 7,7. Pusat gempa tersebut berada di Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Gempa bumi ini berdampak pada sejumlah wilayah di Pulau Flores, mulai dari Kabupaten Manggarai Barat hingga Kabupaten Sikka.

Bencana tersebut mendorong hadirnya kepedulian dan solidaritas dari berbagai pihak, termasuk para relawan yang ingin memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak. Dalam semangat kemanusiaan tersebut, kami tim SRK memutuskan untuk berangkat menuju Kabupaten Nagekeo, yang menjadi fokus kegiatan relawan SRK. Pada 21 Agustus 2026, berangkat menuju lokasi bencana gempa bumi di Flores. Kami berangkat dari Bandara Juanda, Sidoarjo, sekitar pukul 15.00 WIB dan tiba di Bandara Komodo, Labuan Bajo, sekitar pukul 18.00 WITA.

Sesampainya di bandara, kami langsung dijemput oleh seorang warga asal Surabaya yang kebetulan bekerja di Labuan Bajo. Setelah dijemput, kami diajak untuk makan malam sebelum melanjutkan perjalanan. Kami singgah di salah satu rumah makan Padang untuk mengisi kembali tenaga yang mulai terkuras setelah perjalanan. Setelah makan malam, kami mencari bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan yang akan digunakan selama perjalanan. Kendala pertama yang kami hadapi ketika tiba di Labuan Bajo adalah kelangkaan bahan bakar. Kami mendatangi dua SPBU, tetapi keduanya tidak memiliki stok bahan bakar. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk membeli bensin eceran yang dijual di tepi jalan.
Setelah mendapatkan bahan bakar, kami melanjutkan perjalanan menuju kediaman Roby di Cawa, Desa Cumbi, Kabupaten Manggarai Tengah. Perjalanan dari Labuan Bajo menuju Cawa menyajikan medan jalan yang penuh dengan tikungan dan kabut. Kabut seolah-olah menyambut kami di sepanjang perjalanan. Eko yang mengemudikan mobil terus melaju dengan hati-hati, melewati tikungan-tikungan tajam yang bentuknya menyerupai setengah lingkaran. Beruntung, Eko sudah cukup berpengalaman menghadapi medan jalan seperti itu. Pengalamannya menjadi modal penting bagi kami untuk melewati perjalanan yang penuh tantangan. Selain medan jalan, kami kembali menghadapi kendala lain. Beberapa kaca mobil tidak dapat dinaikkan sehingga angin terus masuk ke dalam kendaraan. Karena udara semakin dingin, kami memutuskan untuk menutup bagian kaca yang bermasalah menggunakan kardus dan sarung milik Roby. Cara sederhana tersebut kami lakukan agar angin tidak terlalu masuk ke dalam mobil. Ketika memasuki Pang Lembor, yang merupakan wilayah perbatasan antara Manggarai Barat dan Manggarai Tengah, hawa dingin semakin terasa. Angin malam seolah-olah berubah menjadi jarum-jarum kecil yang menusuk kulit kami. Di tengah rasa lelah dan dingin, kami tetap melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, pada pukul 23.52 WITA kami akhirnya tiba di kediaman Roby di Cawa, Desa Cumbi, Kabupaten Manggarai Tengah. Kami disambut dengan hangat oleh ayah dan ibu Roby. Setibanya di rumah, kami disuguhi air hangat yang dituangkan ke dalam gelas untuk membantu menghangatkan tubuh setelah perjalanan panjang.Setelah menikmati air hangat tersebut, kami ditawari kopi asli Manggarai. Sebagai bentuk penghormatan kepada tuan rumah, kami tentu saja menerima tawaran tersebut.Sembari menunggu kopi yang sedang diseduh oleh ibu Roby, kami berbincang-bincang dengan ayah Roby mengenai gempa bumi yang melanda Pulau Flores. Percakapan tersebut menjadi kesempatan bagi kami untuk mendengar cerita dan memahami situasi yang dialami masyarakat setempat. Setelah menikmati kopi, rasa lelah mulai terasa. Mata kami perlahan menjadi sayup dan tubuh mulai membutuhkan istirahat. Perjalanan dari Labuan Bajo menuju Cawa yang memakan waktu sekitar tiga setengah jam membuat kami semakin menyadari panjangnya perjalanan yang telah ditempuh.

Keesokan harinya, sekitar pukul 06.40 WITA, kami bangun dan kembali disuguhi kopi panas. Bagi masyarakat Manggarai, menyajikan kopi kepada tamu merupakan salah satu bentuk keramahan dan kebiasaan dalam menyambut orang yang berkunjung atau menginap di rumah mereka. Tidak hanya kopi, ayah dan ibu Roby juga menyiapkan sarapan pagi untuk kami. Meskipun sederhana, kami tetap bersyukur karena makanan tersebut dapat mengisi perut dan memberikan tenaga untuk melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Nagekeo. Adik Roby turut membantu kami mencari bensin untuk kendaraan yang akan digunakan. Namun, SPBU yang berada tidak jauh dari rumah ternyata belum memiliki stok bahan bakar. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk mengisi bensin di SPBU Mena, Kota Ruteng.
Setelah menikmati kopi dan sarapan pagi, kami mulai berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum berangkat, kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama ayah, ibu, dan adik Roby. Foto tersebut menjadi kenangan bahwa kami pernah hadir dan singgah di kediaman Roby bersama keluarganya. Kami pun berpamitan kepada keluarga Roby. Mereka mengantar kami hingga kendaraan mulai bergerak meninggalkan rumah. Senyum dan tawa yang terpancar dari wajah mereka memberikan kesan hangat, seolah-olah kehadiran kami merupakan bagian dari keluarga sendiri.

Perjalanan selanjutnya membawa kami dari Cawa, Desa Cumbi, Kabupaten Manggarai Tengah, menuju Kabupaten Nagekeo. Perjalanan tersebut diperkirakan memakan waktu sekitar enam hingga sembilan jam. Karena persediaan bahan bakar belum mencukupi, kami singgah di SPBU Mena, Kota Ruteng. Setelah tangki mobil terisi penuh, kami melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Nagekeo.

Sesampainya di Bea Laing, Kabupaten Manggarai Timur, kami berhenti di salah satu warung atau kios yang menjual kebutuhan sehari-hari. Kami membeli sejumlah sembako untuk memenuhi kebutuhan selama berada di posko relawan. Setelah selesai berbelanja, kami kembali melanjutkan perjalanan. Namun, di tengah perjalanan, kami mulai merasakan adanya masalah pada mobil yang kami gunakan. Beberapa kali kami berhenti di bengkel-bengkel yang berada di tepi jalan, tetapi belum ada bengkel yang dapat memperbaiki kendaraan roda empat kami.Karena belum menemukan bengkel yang mampu menangani kerusakan tersebut, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan tetap memperhatikan kondisi kendaraan.
Sesampainya di Watu Jaji, Kabupaten Ngada, kami berhenti sejenak di tepi jalan untuk mendinginkan dan memeriksa mesin mobil. Kondisi kendaraan yang bermasalah membuat kami harus lebih berhati-hati dalam menentukan langkah selanjutnya. Medan jalan yang kami lalui kembali menghadirkan tantangan. Rute menuju Nagekeo memiliki banyak tikungan tajam yang menyerupai setengah lingkaran. Bayangkan saja, dalam waktu kurang dari lima detik, kami sudah harus menghadapi tikungan berikutnya. Kondisi jalan seperti ini benar-benar menguji konsentrasi dan keterampilan pengemudi. Setelah beberapa menit beristirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan sambil mencari bengkel terdekat. Namun, karena kondisi mobil tidak memungkinkan untuk dipaksa terus berjalan, kami akhirnya berhenti di salah satu bengkel mobil yang berada di wilayah Kabupaten Ngada.

Kami menunggu hampir tiga jam hingga perbaikan kendaraan selesai. Setelah itu, sekitar pukul 16.25 WITA, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju kediaman Romo Aldo di Desa Nggolombay, Kabupaten Nagekeo. Perjalanan dari bengkel menuju rumah Romo Aldo kami tempuh dengan mengandalkan aplikasi peta digital. Kami melewati jalur Soa yang memiliki kondisi jalan sempit dan berlubang. Pada beberapa titik, kami sempat berpikir bahwa telah mengambil jalur yang salah karena hampir tidak ada kendaraan yang melintas. Di sisi kiri dan kanan jalan, kami melihat semak belukar, pepohonan, dan jurang. Suasana tersebut membuat perjalanan terasa semakin menegangkan. Namun, hati kami kembali tenang ketika melihat kendaraan lain melintas di jalur yang sama. Hal itu meyakinkan kami bahwa jalur yang kami lalui masih benar. Setelah melewati perjalanan yang panjang dan penuh tantangan, akhirnya pada pukul 20.23 WITA kami tiba di kediaman Romo Aldo.

Seperti pengalaman kami sebelumnya di Manggarai, kami kembali disambut dengan kehangatan khas masyarakat Flores. Setibanya di rumah, kami langsung disuguhi kopi panas. Kami berbincang-bincang dengan Romo Aldo, Bapak Haris, serta ibu Romo Aldo. Dalam percakapan tersebut, kami mendengarkan cerita mengenai dahsyatnya gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus 2026. Setelah menikmati secangkir kopi, kami melanjutkan malam dengan makan bersama. Hidangan makan malam telah disiapkan oleh ibu Romo Aldo. Di tengah suasana yang sederhana, kami menikmati makanan sekaligus memulihkan tenaga setelah perjalanan dan aktivitas yang cukup melelahkan.

Namun, kondisi pascagempa bumi mengharuskan kami untuk lebih berhati-hati. Kami tidak dianjurkan untuk tidur di dalam rumah karena imbauan pemerintah terkait keselamatan warga masih berlaku. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk mendirikan tenda gunung yang akan menjadi tempat beristirahat selama menjalankan kegiatan di Nagekeo. Dengan peralatan sederhana, kami mulai mendirikan tenda. Setelah selesai, kami membersihkan diri. Keringat yang masih melekat pada tubuh dan pakaian menjadi pengingat akan aktivitas panjang yang telah kami lalui hari itu. Malam semakin larut. Kami pun memutuskan untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk kegiatan asesmen yang akan dimulai pada Senin, 24 Agustus 2026.

Senin, 24 Agustus 2026, menjadi awal bagi tim SRK untuk bergerak menyusuri sejumlah wilayah terdampak gempa bumi. Hingga Sabtu, 29 Agustus 2026, kami melakukan assessment di berbagai desa dan wilayah, khususnya di Desa Waekokak, Dusun Marapokot, Dusun Puta, Kampung Bajo di Desa Tadho, serta Desa Wajo. Perjalanan kami tidak berhenti di Kabupaten Nagekeo. Kami juga menjangkau wilayah lain, seperti Kecamatan Riung dan Desa Nanggamese di Kabupaten Ngada, serta Nioniba di Kabupaten Ende. Setiap tempat yang kami datangi menyimpan cerita, kondisi, dan kebutuhan masyarakat yang berbeda-beda.

Dalam proses assessment, kami mengumpulkan data mengenai jumlah jiwa, jumlah rumah, dan jumlah keluarga yang terdampak di setiap desa atau RT yang kami kunjungi. Perangkat desa menjadi bagian penting dalam perjalanan ini. Mereka membantu kami memperoleh informasi dari warga serta memudahkan proses pengumpulan data di lapangan. Akan tetapi, pekerjaan kami tidak sebatas angka dan data. Kami juga berusaha melihat secara langsung kondisi wilayah yang terdampak gempa bumi. Dengan menyaksikan keadaan masyarakat dan lingkungan sekitar, kami semakin memahami bahwa bencana bukan hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga menghadirkan tantangan bagi kehidupan warga.

Selama kurang lebih satu minggu, tim SRK berfokus pada kegiatan assessment sembari menunggu bantuan berupa barang-barang yang dikirim dari Surabaya. Hari-hari kami diisi dengan perjalanan, pengumpulan informasi, dan interaksi bersama masyarakat yang terdampak. Setelah proses assessment hampir selesai, kami mulai mempersiapkan kebutuhan bantuan. Kami berbelanja berbagai bahan pokok atau sembako yang nantinya akan didistribusikan kepada masyarakat. Dalam proses tersebut, kami tidak bekerja sendirian. Azmin dan Adrian, dua warga lokal, turut membantu kami. Bapak dan Ibu dari Romo Aldo, serta Romo Aldo sendiri, juga memberikan bantuan dalam mempersiapkan kebutuhan yang diperlukan. Di tengah keterbatasan waktu dan tenaga, kebersamaan menjadi kekuatan yang membantu kami menyelesaikan setiap tahapan pekerjaan.

Setelah seluruh barang tersedia, kami mulai mengemas paket sembako dengan rapi dan membaginya secara merata. Setiap paket dipersiapkan agar dapat disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Untuk memperlancar pekerjaan, kami membagi tugas menjadi dua tim. Roby bertanggung jawab di bagian gudang, menjaga barang-barang dan paket sembako yang telah dikemas di posko. Sementara itu, Heru, Eko, Adrian, dan Azmin bertugas mendistribusikan bantuan kepada warga. Pada pendistribusian tahap pertama, paket sembako yang kami bagikan terdiri atas beras seberat 5 kg, mi instan, dan gula. Kami berusaha memastikan bahwa proses pembagian berjalan dengan baik dan bantuan dapat diterima oleh masyarakat yang menjadi sasaran.

Di tengah proses tersebut, barang-barang bantuan yang dikirim dari Surabaya akhirnya tiba di posko tim SRK. Ruang kerja kami yang terbatas membuat kami harus segera mengatur kembali barang-barang yang tersedia. Kami pun memutuskan untuk mendistribusikan pakaian layak pakai yang telah dikirim dari Surabaya. Setelah pendistribusian pakaian selesai, kami kembali melanjutkan pengemasan bantuan. Kali ini, kami mempersiapkan paket sembako, perlengkapan mandi, dan perlengkapan mencuci untuk pendistribusian tahap kedua. Setiap paket yang kami kemas bukan hanya sekadar barang bantuan. Di dalamnya terdapat harapan agar masyarakat yang terdampak bencana dapat sedikit terbantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Waktu terus berjalan. Setelah melewati berbagai aktivitas selama berada di Flores, tibalah saatnya kami mulai memikirkan perjalanan pulang. Pada Sabtu, 12 September 2026, Eko berkunjung ke rumah keluarganya di Maumere. Sementara itu, Roby kembali ke rumahnya di Cawa, Desa Cumbi, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Keluarga dan rumah selalu memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan setiap orang. Setelah menjalani perjalanan panjang, bertemu kembali dengan orang tua dan keluarga tercinta menjadi sebuah kerinduan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rumah bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi juga tempat untuk memulihkan diri dan menemukan kembali rasa nyaman. Sementara itu, Heru masih berada di posko bersama relawan lainnya untuk melanjutkan aktivitas yang masih diperlukan.

Pada Selasa, 15 September 2026, Heru dan Eko berangkat dari Mbay menggunakan pesawat melalui Bandara Soa menuju Bandara Labuan Bajo. Di sisi lain, Roby melakukan perjalanan menggunakan bus dari rumahnya menuju Bandara Labuan Bajo. Setelah melalui perjalanan masing-masing, kami akhirnya bertemu kembali di Bandara Labuan Bajo. Dari sana, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Surabaya bersama-sama, seperti ketika kami berangkat pada 15 Agustus 2026. Pada pukul 18.00 WIB, kami tiba dengan selamat di Bandara Juanda, Sidoarjo. Perjalanan belum sepenuhnya berakhir. Kami kemudian menaiki bus menuju Terminal Bungurasih. Sesampainya di terminal, kami menyempatkan diri untuk beristirahat dan makan malam sebelum akhirnya kembali ke rumah atau kos masing-masing. Setelah perjalanan panjang, ada rasa lega karena kami telah tiba dengan selamat. Namun, pengalaman selama berada di Flores tentu akan tetap tinggal dalam ingatan kami.
Setiap perjalanan selalu meninggalkan sesuatu untuk dikenang. Begitu pula dengan perjalanan kami sebagai relawan SRK di Flores. Ada banyak pengalaman, pertemuan, dan pelajaran yang kami peroleh, baik melalui interaksi bersama masyarakat maupun melalui kebersamaan di antara sesama relawan. Dalam setiap pekerjaan, kita akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki karakter, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda. Tidak semua orang akan memiliki pandangan yang sama dengan kita. Tidak semua proses berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun, justru di tengah perbedaan itulah kita belajar untuk memahami, bersabar, dan tetap menjalankan tanggung jawab. Kita diuji bukan hanya ketika menghadapi kesulitan dalam pekerjaan, tetapi juga ketika harus berhadapan dengan perbedaan sikap dan cara berpikir.

Menjadi seorang relawan bukan sekadar memberikan bantuan kepada sesama. Menjadi relawan juga merupakan proses belajar tentang kemanusiaan, kepedulian, kerja sama, dan ketulusan. Di lapangan, kita belajar bahwa membantu orang lain membutuhkan lebih dari sekadar tenaga. Kita juga membutuhkan hati yang terbuka, kesediaan untuk memahami, dan kemauan untuk terus belajar. Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa pekerjaan kemanusiaan tidak selalu mudah. Ada kelelahan, keterbatasan, perbedaan, dan tantangan yang harus dihadapi. Namun, di balik semua itu, ada kebahagiaan ketika kita mengetahui bahwa apa yang kita lakukan dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Semoga setiap langkah yang telah kami tempuh, setiap bantuan yang telah kami salurkan, dan setiap waktu yang kami berikan dapat memberikan manfaat bagi saudara-saudari kami di Pulau Flores, khususnya masyarakat Kabupaten Nagekeo dan wilayah terdampak lainnya. Perjalanan kami mungkin telah berakhir, tetapi cerita, pertemuan, dan pelajaran yang kami peroleh akan tetap menjadi bagian dari perjalanan kehidupan. Sebab, pada akhirnya, kemanusiaan bukan hanya tentang seberapa banyak yang dapat kita berikan, melainkan juga tentang seberapa tulus kita hadir bagi sesama.
By : Robertus Jehatu (Relawan SRK)

