Penyelamat Bisa Dari Siapa Saja

Halo, salam kenal. Nama saya Amel. Saya ingin membagikan pengalaman saya selama mengikuti pelatihan ‘BASIC LIFE SUPPORT’ pada Sabtu,12 Oktober 2024 di Gedung St. Yosef lt. 8 (Jl. Ciliwung No. 26, Surabaya) yang di adakan oleh RKZ, nama RKZ sendiri merupakan kepanjangan dari Rooms Katholiek Ziekenhuis dari Bahasa Belanda, yang berarti Rumah Sakit Katolik.

Saya berangkat bersama kakak-kakak SRK, kami berdelapan yang terdiri dari mas heru, mas itok, kak candra, kak febri, kak defrin, kak agatha, rena dan saya, setibanya di lokasi sekitar pukul 07.00 WIB kami mampir ke warung kopi untuk menunggu beberapa teman lainnya yang masih dalam perjalanan, setelah semua sudah berkumpul kami naik ke lantai 8 untuk memulai pelatihan BLS Batch, sebelum kami masuk ruang pertemuan kami di sambut panitia untuk absensi maupun menyerahkan surat tugas dan tanda bukti pembayaran sebagai verifikasi kepesertaan.

Pelatihan dimulai dengan banyak informasi berharga, terutama mengenai P3K, evaluasi, dan resusitasi (pijat jantung). Pada sesi pertama, kami dijelaskan tentang P3K: pertolongan pertama pada kecelakaan yang bertujuan untuk menyelamatkan nyawa, mencegah penyakit, dan mempercepat pemulihan. Contoh yang diberikan mencakup cara mengenali dan menilai kegawatan, memberikan perawatan dengan kompetensi, serta mencari pertolongan melalui nomor darurat (112 untuk kegawatan medis dan 119 untuk luar Surabaya). Motto kami adalah “Time saving is life and limb saving.”

Kami juga belajar tentang enam prinsip penyelamatan korban, yang mencakup memastikan situasi sekitar, memeriksa korban, dan mengecek jalur pernapasan. Selain itu, kami diperkenalkan dengan tanda-tanda stroke dan serangan jantung, serta penanganan tersedak, luka bakar, keracunan makanan, dan cedera tulang leher.

Pada sesi kedua, kami mempelajari bantuan hidup dasar. Kami diberikan kesempatan untuk mempraktekkan pijat jantung, P3K, dan evaluasinya. Dari pelatihan ini, saya mendapatkan banyak ilmu yang bermanfaat. Pentingnya sikap saling tolong-menolong tidak hanya sebatas ucapan, tetapi perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan sikap tersebut, pekerjaan yang sulit sekalipun dapat teratasi. Namun, untuk saling tolong-menolong, diperlukan proses dan kepekaan.

Setiap tindakan kebaikan tidak akan terlupakan; setiap aksi tanpa pamrih akan menjadi memori abadi dalam relung hati manusia.

By : Amelia Cantika Alum (Staf Sekretariat YKBS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *