Setiap Orang Bisa Menjadi Hebat karena Setiap Orang Dapat Melayani
Langit cerah, udara segar, dan suasana penuh kegembiraan menjadi gambaran dari perasaan para peserta Training for Volunteers: Analisis Komunitas di Wilayah Bencana yang dilaksanakan pada 15–17 Mei 2026 di Taman Wisma Kartini. Berbagai relawan berkumpul sebagai satu keluarga dengan satu tujuan: belajar menjadi manusia yang berinvestasi bagi masa depan kemanusiaan.

Saya Michael, dan melalui tulisan ini saya ingin menceritakan pengalaman selama tiga hari mengikuti kegiatan tersebut.
Ketertarikan saya mengikuti kegiatan ini berawal dari rasa penasaran tentang apa saja yang dipelajari oleh para relawan dan bagaimana proses pembelajarannya. Kegiatan ini ternyata bukan hanya menjadi sarana pengembangan diri, tetapi juga menjadi ruang untuk menghilangkan sekat kecanggungan antar peserta sehingga kami dapat belajar bekerja bersama dan saling mendukung.
Pada hari pertama, kami mendapatkan materi psikologi yang disampaikan oleh Bapak Gratianus Edwi Nugrohadi, dosen Psikologi Universitas Widya Mandala Surabaya. Beliau mengajak kami untuk kembali mendalami makna menjadi seorang relawan. Saya teringat pada sebuah buku berjudul The Compact Code of Good Practice on Volunteering yang terbit pada tahun 2005, yang menjelaskan bahwa:

“…an activity that involves spending time, unpaid, doing something that aims to benefit the environment or individuals or groups other than (or in addition to) close relatives”.
Artinya, seorang relawan menyediakan waktu dan tenaga tanpa mengharapkan imbalan demi memberikan kontribusi positif bagi lingkungan, individu, maupun kelompok di luar lingkaran terdekatnya.
Relawan tidak hanya hadir untuk membantu orang lain, tetapi juga hadir bagi dirinya sendiri. “Bagaimana kita bisa menolong orang lain jika kita masih kesulitan untuk menolong diri sendiri?” ujar Pak Edwi sebagai pengantar sesi. Pernyataan tersebut bukan menjadi penghalang bagi relawan untuk terus berkarya, melainkan dorongan untuk lebih memahami diri sendiri dan memperkuat semangat dalam setiap karya kemanusiaan yang dilakukan.
Menjadi relawan bukan sekadar tentang mengorbankan waktu, tetapi juga tentang berinvestasi bagi masa depan kemanusiaan.
Pada hari kedua dan ketiga, kami berfokus pada pembekalan mengenai cara menganalisis fenomena yang terjadi di suatu wilayah atau komunitas tertentu. Kami mempelajari teori Analisis Sosial dengan pendekatan IPolEkSosBudHanKam+Ekologi yang disampaikan oleh Bapak Andri dan Bapak Wisnu dari WADAS (Wadah Asah Solidaritas). Pembekalan ini diberikan agar peserta lebih siap menghadapi realitas di lapangan.

Tidak hanya belajar teori, kami juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan analisis sosial secara langsung di beberapa daerah dan komunitas yang telah ditentukan oleh panitia. Kami dibagi ke dalam enam kelompok secara acak, sehingga setiap peserta dituntut untuk mampu menerima perbedaan, menyatukan gagasan, dan bekerja sama dalam keberagaman.
Bagi saya, proses pengumpulan data dan diskusi menjadi bagian yang paling menarik. Dalam proses tersebut, muncul banyak asumsi dan pertanyaan yang justru semakin memunculkan rasa penasaran sekaligus memacu semangat untuk mencari jawaban. Berdiskusi hingga larut malam, berdebat antar anggota kelompok, hingga kebingungan menghadapi hasil temuan yang beragam menjadi dinamika yang membuat setiap kelompok semakin berwarna.

Setelah proses diskusi selesai, tibalah saatnya memaparkan hasil analisis yang telah kami kumpulkan dan susun bersama. Rasa lelah tentu terlihat dari wajah para peserta, tetapi semangat untuk belajar jauh lebih terpancar. Sesi pemaparan hasil menjadi sangat menarik karena setiap kelompok dapat saling melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing, sekaligus memberikan masukan yang berguna bagi perkembangan bersama.

Tidak ada yang datang dengan tujuan menjatuhkan orang lain. Semua hadir untuk belajar menjadi manusia yang peduli terhadap masa depan. Menjadi relawan bukan hanya tentang memberikan kontribusi secara sukarela bagi dunia, tetapi juga tentang belajar melakukan tindakan-tindakan kecil bersama-sama yang pada akhirnya memiliki kekuatan besar untuk mengubah dunia.
By : Michael Diaz Kristiadi (peserta training for volunteers)

