Di Balik Lumpur: Jejak Solidaritas di Tapanuli Tengah

Bencana tidak pernah benar-benar selesai ketika hujan berhenti dan lumpur mengering. Ia tinggal dalam ingatan, pada rumah yang runtuh, dan hati masyarakat terdampak. Di Tapanuli tengah, luka akibat banjir dan tanah longsor masih terasa berbulan-bulan setelahnya, memaksa sebagian warga bertahan di pengungsian, menata ulang sisa-sisa yang ada. Dalam situasi itulah perjalanan kami dimulai, sebuah langkah kecil dalam upaya panjang pemulihan membawa kami kembali ke tanah Sumatera, menyusuri jejak duka sekaligus harapan, untuk terus belajar tentang solidaritas, kemanusiaan dan kentangguhan manusia mengahadapi bencana.

Jumat, 16 Januari 2026, kami Tim SRK bertolak ke Silangit untuk misi kemanusiaan di Sumatera. Kali ini kami berkolaborasi bersama teman-teman Caritas Indonesia. Saya (Sian), Reva, Mas Heru dan Mas Eko berangkat dari Surabaya dan transit di Jakarta sebelum melanjutkan penerbangan ke Silangit. Kami mengalami delay selama lima jam. Silangit menyambut kami dengan hawa dinginnya. Kami juga sudah berkontak dengan beberapa rekan kami di Sibolga perihal kehadiran SRK kembali.

Jalan berkelok, bekas-bekas longsor di kiri dan kanan jalan menemani perjalanan malam kami menuju Sibolga. Selama dua pekan kami akan bermalam di Posko Caritas, yaitu di Wisma Kristoforus Keuskupan Sibolga. Ini adalah perjalanan pertama saya ke Sumatera, sehingga adaptasi terhadap berbagai hal perlu dilakukan dengan cepat. Kami tiba di Sibolga kurang lebih pukul 23.00. Teman-teman Caritas menyambut kedatangan kami, dan malam itu kami lanjutkan dengan beristirahat setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan, namun juga menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Hari pertama di Sibolga kami awali dengan koordinasi bersama tim Caritas. Kami bertemu dengan berbagai relawan dari Lampung, Jakarta, Malang, Jogja, serta warga asli setempat. Tim respon bencana kali ini terbagi dalam beberapa divisi layanan, diantaranya: tim asesmen, logistik, media, kesehatan, psikososial, dan TPPO. Tim Caritas memberikan keleluasaan kepada SRK untuk bergabung dengan tim mana pun yang membutuhkan.

Sabtu, 17 Januari 2026 – hari pertama kami di Sibolga, SRK memutuskan berjalan bersama tim psikososial dan TPPO menuju Posko kebun pisang. Di Posko kebun Pisang, kami melihat sekitar 120 tenda pengunsian tampak cukup lenggang pada siang hari, sebab sebagian masyarakat memilih kembali ke ladang, memberi makan ternak yang tersisa, serta melihat kondisi rumah mereka. Sementara itu siswa/i yang duduk di bangku SMP dan SMA sudah aktif kembali bersekolah. Mereka beraktivitas pada siang hari dan kembali ke posko sewaktu sore hari. Meski demikian, masih ada beberapa yang terlihat berada di lingkungan posko. Kami juga menemukan beberapa tenda sekolah darurat yang digunakan oleh siswa/i tingkat sekolah dasar. 

Saat itu, tim psikososial melaksanakan kegiatan trauma healing bersama anak-anak Posko Kebun Pisang. Kami bernyanyi bersama, lalu menggambar. Beberapa perwakilan kemudian bercerita mengenai gambar yang mereka buat. Secara keseluruhan, kami menemukan dominasi gambar dengan objek rumah, pohon dan lautan lumpur. Hal ini menjadi penanda bahwa pengalaman bencana yang mereka alami masih membekas dalam ingatan anak-anak. Meskipun saat kami temui secara langsung, anak-anak terlihat baik-baik saja dan tersenyum selama kegiatan berlangsung. Namun, jauh di lubuk hati mereka masih membutuhkan pendampingan pemulihan secara psikologis.

Hari berlalu, berganti malam. Kami kembali ke Wisma yang ditempuh sekitar enam puluh menit dari Posko Kebun Pisang. Kami kembali duduk bersama semua tim dan secara bergilir menceritakan kegiatan yang dilakukan selama sehari penuh. Tim Caritas menyampaikan bahwa tidak ada kegiatan di hari Minggu atau libur, namun kami (Tim SRK dan JPIC) memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan mengunjungi Posko Lopian.

Setelah melihat kondisi dan dinamikan dalam ruang kerja bersama, tim SRK yang semula bermaksud bergabung dengan tim asesmen harus beralih ke tim psikososial. Kami menyadari bahwa butuh komitmen jangka panjang dalam melakukan asesmen terutama kondisi saat ini yang memasuki masa transisi dan fokus kerja adalah asesmen untuk Huntara, sementara waktu kami di Sibolga cukup terbatas. Untuk memaksimalkan pergerakkan dan dampak layanan, kami pun bergabung bersama tim psikososial yang berfokus pada pendampingan anak-anak terdampak.

Serangkaian kegiatan kami lalui bersama, beberapa hal penting kami catat dalam temuan harian. Keterbatasan waktu mendorong kami untuk mengundang berbagai elemen masyarakat, duduk bersama, dan membicarakan praktik baik yang dapat dilakukan sesuai peran dan tugas masing-masing lembaga. Secara bergilir, kami melakukan audiensi dengan beberapa dinas, diantaranya: Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Perempuan, serta Dinas Ketenagakerjaan. Selain itu, kami juga melibatkan aparatur desa, kepala sekolah, guru dan perwakilan masyarakat. Di Posko Kebun Pisang, pada Kamis, 22 Januari 2026, kami melaksanakan diskusi lintas sektor menyampaikan hasil temuan asesmen dan pendampingan tim psikososial dan TPPO.

Topik utama yang menjadi bahan diskusi kami meliputi pemenuhan hak anak, yang tidak dapat ditawar meski dalam kondisi bencana; buku pegangan guru dan kurikulum yang disesuaikan dengan situasi pasca-bencana; serta indikasi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Diskusi berjalan cukup kondusif dan partisipatif. Semua elemen dinas menyampaikan komitmen terkait pemenuhan hak anak dan langkah preventif untuk mencegah perdagangan orang. Pak Camat Badiri menutup pertemuan dengan menegaskan bahwa kerja kolektif perlu diwujudkan dan percepatan pemulihan akan diupayakan secara bersama-sama.

Pelibatan masyarakat tidak berhenti pada pemangku kepentingan, kami juga melibatkan kaum muda untuk menjadi agen pencegahan TPPO, karena merekalah pihak yang paling rentan menjadi korban. Maka SRK bersama JPIC kemudian melakukan diskusi dengan teman-teman muda Posko Kebun Pisang, yang berjumlah sekitar delapan puluh orang, untuk bertukar informasi terkait TPPO. Kegiatan ini kami akhiri dengan nonton bersama sebagai penguat secara visual. Antusiasme teman-teman muda begitu besar. Mereka menyampaikan bahwa ini adalah kali pertama kegiatan yang melibatkan kaum muda dilakukan di Posko Kebun Pisang. Kami memilih waktu malam hari dengan pertimbangan bahwa mereka lebih siap diajak bertukar pikiran setelah seharian berkegiatan di sekolah atau di ladang.

Sebagai lankah tindak lanjut yang baik, kami melanjutkan diskusi bersama organisasi/lembaga layanan isu TPPO lokal, di antaranya bersama Romo Pedro dari JPIC Kapusin Sibolga, Romo Walterius Manurung ketua Caritas PSE Keuskupan Sibolga, dan Romo Rohendi Koordinator KPKC (Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan). Romo Walterius menceritakan bahwa sebelumnya sudah ada rencana kolaborasi untuk menghidupkan pergerakkan ini, namun terkendala karena bencana. Tantangan terbesar dalam isu ini adalah mentalitas manusia, ketesediaan sumber daya manusia yang memiliki hati untuk melayani, serta kompleksitas kondisi masyarakat di Sibolga, serta belum semua romo di paroki-paroki memiliki keprihatinan dalam isu ini.

Tim SRK menutup perjalanan di Sibolga dengan memberikan dukungan sepatu sekolah dan perlengkapan dapur kepada warga terdampak di Posko Lopian. Hal ini juga menjadi simbol perpanjangan kebaikkan dari teman-teman di Surabaya kepada warga terdampak bencana. Terdapat secercah harapan baru bagi anak-anak yang menerima sepatu: bahwa impian mereka tidak terkubur bersama lumpur. Bahwa mereka masih layak berlari mengejar cita-cita. Impian itu tidak hilang, hanya sempat tertunda akibat peristiwa yang menimpa mereka.

Perjalanan yang panjang dengan segudang pengalaman berharga. Saya belajar banyak hal dan menyadari bahwa solidaritas harus terus hidup dalam setiap hati kita. Pengalaman ini juga menjadi perjalanan pertama saya menjadi relawan kebencanaan. Strategi yang matang, ketahanan fisik dan psikis, serta ketulusan dalam karya pelayanan adalah satu paket yang tidak terpisahkan. Selain itu, kerja kolektif juga menjadi kunci keberhasilan setiap upaya kemanusiaan.

By : Matilda Tjundawan (Relawan SRK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *