Cerita di Balik Asesemen SRK
Perjalanan kami dimulai di pagi yang cerah di Surabaya, sebuah kota yang sibuk dengan aktivitas. Mas Heru, Pak Eko, Eva, dan saya, Mildred, telah mempersiapkan diri untuk misi penting yang tidak mudah: terjun ke Lumajang untuk melakukan asesmen awal pasca-erupsi Semeru. Tugas yang kami emban bukan sekadar mendata kerusakan atau menghitung jumlah korban, tetapi lebih dalam dari itu. Kami bertugas memastikan bahwa setiap kebutuhan warga terdampak benar-benar terlihat dan tercatat dengan akurat, agar bantuan yang disalurkan bisa tepat sasaran dan efektif.
Perjalanan Menuju Lumajang
Perjalanan menuju Lumajang dimulai pagi-pagi sekali, dengan mobil yang membawa kami melalui jalanan yang ramai dan pemandangan yang berubah seiring kami menjauh dari pusat kota. Kami tahu bahwa perjalanan ini akan memakan waktu lama dan penuh tantangan, namun semangat kami tidak surut. Di perjalanan, kami berusaha untuk tetap fokus pada tujuan, meskipun pikiran kami tak lepas dari gambaran bencana yang kami hadapi di depan. Keadaan di daerah yang baru saja mengalami erupsi tentu akan sangat berbeda dengan yang kami kenal sebelumnya.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya kami mulai memasuki kawasan terdampak. Namun, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, dan matahari mulai tenggelam. Kami menyadari bahwa kondisi sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan asesmen malam itu. Tidak hanya karena keterbatasan cahaya, tetapi juga karena banyaknya bahaya yang tidak bisa diprediksi. Kawasan yang baru saja dilanda bencana masih rawan, dengan risiko adanya letusan susulan atau kondisi alam yang tidak stabil. Kami memutuskan untuk bermalam di rumah Mak sum yang dulu juga membantu kami pada 2021 waktu semeru erupsi, yang jaraknya sekitar 30-40 menit dari lokasi bencana. Rumah sederhana itu menjadi tempat kami merencanakan langkah-langkah kami untuk keesokan harinya, memberikan kesempatan untuk beristirahat dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan hari berikutnya.

Keesokan Hari: Menyusuri Lokasi Bencana
Pagi-pagi sekali, kami memulai perjalanan menuju lokasi bencana. Kali ini, kami ditemani Pak salim salah satu relawan yang dengan sabar menunjukkan jalan, membawa kami menuju titik-titik terparah yang terdampak erupsi. Begitu kami memasuki area tersebut, rasa cemas dan harapan berbaur menjadi satu. Kami langsung disambut dengan pemandangan yang memilukan: rumah-rumah yang hancur, tertutup abu vulkanik dan pasir, serta jalanan yang sulit dilalui. Setiap langkah kami terasa berat, namun kami tahu bahwa tugas yang harus kami jalankan sangat penting.
Kami juga melihat banyak anggota TNI dan Polri yang berjaga dan membantu di kawasan bencana. Mereka memberikan dukungan moral dan fisik kepada warga yang kehilangan tempat tinggal. Kehadiran mereka menjadi pengingat bahwa dalam situasi seperti ini, kerjasama lintas instansi sangat dibutuhkan. Pada hari itu, fokus utama kami adalah mencari posko pengungsian dan mendata lokasi-lokasi pengungsian yang tersebar, mengetahui jumlah pengungsi yang ada, serta kondisi yang mereka alami.
Selain itu, kami juga berusaha mengidentifikasi kelompok-kelompok rentan di pengungsian: bayi, balita, anak-anak, remaja, ibu hamil, ibu menyusui, serta lansia. Pengumpulan data ini penting agar bantuan yang datang bisa lebih tepat sasaran dan menyasar pada mereka yang membutuhkan. Di dua titik pengungsian yang kami datangi, kami bertemu dengan banyak keluarga yang sedang berusaha beradaptasi dengan keadaan baru mereka. Ada yang terlihat masih bingung dan cemas, sementara yang lain sudah mulai memikirkan langkah-langkah selanjutnya untuk membangun kembali hidup mereka.

Setelah selesai melakukan pendataan di beberapa titik, kami memutuskan untuk membawa sejumlah paket sembako yang telah kami persiapkan sebelumnya di Surabaya. Kami ingin memastikan bahwa bantuan yang kami bawa bisa langsung digunakan oleh warga yang membutuhkan. Oleh karena itu, kami sepakat untuk menyerahkan sembako itu kepada dapur umum NU Peduli Semeru, yang pada saat itu tengah mengelola distribusi makanan untuk para pengungsi. Dengan cara ini, kami berharap bantuan kami bisa sampai ke tangan lebih banyak orang dan bisa dimanfaatkan secara merata oleh seluruh warga yang terdampak.
Refleksi Malam: Fenomena yang Mengejutkan
Malamnya, setelah kembali ke rumah Mak Sum tempat kami menginap, saya duduk merenung. Perjalanan hari itu sangat mengesankan, namun juga penuh dengan kejutan. Apa yang kami lihat dan alami sejak pagi hingga sore memberikan banyak pelajaran berharga. Salah satu fenomena yang cukup mencuri perhatian kami adalah munculnya “wisata bencana.” Di lokasi yang seharusnya menjadi ruang pemulihan bagi warga yang terdampak, kami melihat banyak orang, terutama ibu-ibu, datang hanya untuk berfoto atau membuat video. Mereka tampak lebih tertarik untuk mengambil gambar daripada berusaha memahami atau membantu kondisi yang sedang dihadapi oleh para pengungsi.
Suasana yang semestinya penuh dengan keseriusan dan kekhawatiran malah berubah menjadi tempat wisata dadakan. Banyak yang tidak menyadari bahwa di balik pemandangan yang mereka abadikan dengan kamera, ada kisah kesedihan dan penderitaan yang tengah dialami oleh warga yang kehilangan segalanya. Fenomena ini semakin menegaskan betapa pentingnya edukasi publik tentang etika berkunjung ke wilayah bencana. Wisata bencana bukanlah sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata; di tempat yang penuh luka ini, kita seharusnya membawa empati, bukan hanya kamera.

Fenomena kedua yang cukup menyita perhatian kami adalah munculnya beberapa individu yang duduk di depan rumah yang rusak, yang bukan milik mereka, dan meminta bantuan kepada relawan dan aparat. Beberapa di antaranya bahkan tampak mencoba memanfaatkan situasi untuk mendapatkan lebih banyak bantuan. Situasi ini menunjukkan betapa kompleksnya situasi di lapangan, di mana pendataan harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar bantuan yang diberikan benar-benar sampai kepada mereka yang berhak menerimanya. Tidak jarang, pendataan yang kurang teliti justru akan mengarah pada pembagian bantuan yang tidak merata, atau bahkan jatuh ke tangan yang salah.
Pelajaran yang Didapat
Pengalaman ini mengingatkan kami bahwa pekerjaan kemanusiaan bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga tentang kemampuan membaca situasi, memahami kondisi manusia, dan menjaga integritas dalam setiap langkah yang diambil. Dari pengalaman ini, kami belajar tentang pentingnya asesmen yang teliti bahwa setiap data yang dikumpulkan harus akurat dan mencerminkan kebutuhan nyata di lapangan. Selain itu, kami juga menyadari betapa pentingnya koordinasi yang baik antara berbagai organisasi kemanusiaan, instansi pemerintah, dan relawan. Tanpa kerja sama yang erat, bantuan yang diberikan bisa jadi tidak efektif atau malah terlambat.

Penting juga untuk selalu memastikan bahwa relawan yang terlibat dalam penanganan bencana tidak hanya datang dan bekerja berdasarkan instruksi, tetapi benar-benar memahami kebutuhan mendalam warga yang terdampak. Kami belajar bahwa kemanusiaan tidak hanya mengandalkan kepedulian, tetapi juga pada kemampuan untuk bertindak dengan bijak dan tepat waktu.
Dari perjalanan ini, kami semakin memahami bahwa bencana bukan hanya soal kerusakan fisik yang terlihat. Di baliknya ada kebutuhan psikologis, sosial, dan ekonomi yang harus segera diatasi. Semua itu hanya bisa dicapai dengan koordinasi yang baik, pemahaman mendalam tentang kondisi lapangan, dan semangat untuk benar-benar membantu mereka yang membutuhkan.
By : Mildred Alleta Virgie (Relawan SRK)

