“Memahami Derita, Menjadi Harapan: Catatan Perjalanan Pasca-Erupsi Semeru”
Gumpalan awan gelap masih bergelayut di ufuk Timur Jawa, menjadi saksi bisu amukan Gunung Semeru yang terjadi pada 19 November 2025 lalu. Bagi saya, Reva, satu tahun bergabung sebagai relawan di Solidaritas Relawan Kemanusiaan (SRK) adalah perjalanan batin yang penuh makna. Namun, panggilan kali ini terasa berbeda. Mas Heru, Koordinator Divisi SRK, mengajak saya turun langsung ke jantung bencana untuk melakukan asesmen pasca-erupsi.
Senin, 24 November 2025, perjalanan kami dimulai dari Sekretariat Bersama (Sekber) YKBS di Surabaya. Sebelum mesin mobil menderu, kami (saya), Mas Heru, Mildred, dan Om Eko bersimpuh sejenak dalam doa yang dipimpin oleh Romo Wicak, Ketua Yayasan Kasih Bangsa Surabaya (YKBS). Harapan kami sederhana: keselamatan dan kekuatan untuk menjadi kepanjangan tangan bagi mereka yang membutuhkan.

Lima jam perjalanan darat kami tempuh. Setibanya di Lumajang, kami menyempatkan diri menambah stok logistik sembako, memastikan bantuan yang dibawa benar-benar mencukupi. Di tengah perjalanan menuju lokasi, suasana berubah sunyi. Di dalam mobil, alunan musik dan diskusi ringan menjadi teman di tengah udara Lumajang yang dingin dan mendung. Dari kejauhan, puncak Semeru masih tertutup kabut hitam yang pekat.
Lantaran hari mulai gelap, kami memutuskan untuk bermalam di kediaman jemaat Stasi St. Yusuf, Kecamatan Pronojiwo. Pak Koyo dan Bu Sur menyambut kami dengan tangan terbuka, meskipun kedatangan kami terbilang mendadak.
Ada pemandangan unik malam itu. Di sudut ruang tamu, Mas Heru dan Om Eko terlibat diskusi serius dengan tuan rumah dalam bahasa Jawa yang kental. Sementara saya dan Mildred yang terkendala bahasa setia menyimak sembari menikmati manisnya buah salak hasil panen Pak Koyo dan hangatnya teh buatan Bu Sur. Sebagai mahasiswa, tanggung jawab akademik tetap saya jinjing; di sela tugas kemanusiaan, saya tetap terhubung melalui kelas daring via Zoom. Bagi saya, menjadi relawan bukan alasan untuk alpa dari pendidikan.

Selasa pagi, pukul 04.26 WIB, saya terjaga lebih dulu. Saat berjalan mengelilingi halaman, saya berkesempatan membonceng Bu Sur menuju tukang sayur. Di atas motor, mata saya terpaku pada kejauhan: Semeru kembali menunjukkan aktivitasnya, meluncurkan asap erupsi tipis ke langit fajar.
Tepat pukul 09.00 WIB, agenda utama dimulai. Didampingi rekan-rekan relawan dari komunitas NU, kami menuju titik terdampak. Pemandangan di sana sungguh memilukan. Rumah-rumah hancur, sebagian terkubur material vulkanik, dan wajah-wajah lesu para pengungsi menghiasi tiap sudut.

Namun, di tengah duka, ada realita pahit yang saya temui: fenomena “wisata bencana”. Beberapa orang tampak datang ke lokasi hanya untuk berfoto atau mencari keuntungan dengan mengaku sebagai korban demi mendapatkan sumbangan. Sebuah pemandangan yang mengiris hati di tengah penderitaan yang nyata.
Kami melanjutkan pemantauan ke dua posko pengungsian. Di sana, sinergi antara BPBD, BNPB, dan lembaga terkait tampak berjalan sangat efektif. Kebutuhan warga terakomodasi dengan baik, dan sebagian telah mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat.
Satu fakta menarik yang kami temukan adalah efektivitas sistem peringatan dini. Alarm di zona merah berfungsi dengan baik, memberikan waktu krusial bagi warga untuk mengevakuasi diri sebelum erupsi mencapai puncaknya. Edukasi bencana yang selama ini ditanamkan pemerintah setempat terbukti membuahkan hasil; warga Lumajang kini lebih tanggap dan tahu apa yang harus dilakukan saat “Sang Mahameru” bergejolak.
Setelah menyerahkan bantuan sembako melalui posko relawan NU dan berdiskusi dengan para tokoh agama setempat, kami beristirahat sejenak di sebuah tempat dekat lokasi untuk melakukan evaluasi.

Awalnya, kami berencana melakukan asesmen hingga hari Rabu. Namun, melihat respons cepat pemerintah dan kondisi warga yang relatif stabil, Mas Heru memutuskan bahwa asesmen selama dua hari satu malam ini sudah cukup memberikan data yang akurat. Sore itu juga, kami memutuskan untuk kembali ke Surabaya.
Perjalanan ini adalah pelajaran hidup yang tak ternilai. Melihat ketangguhan warga dan dedikasi rekan-rekan relawan di lapangan membuat saya semakin yakin pada jalan ini. Terima kasih kepada YKBS dan SRK atas kesempatan berharga ini.

Untuk kalian di luar sana, ruang untuk peduli selalu terbuka. Kami tunggu kalian untuk menjadi bagian dari keluarga besar Solidaritas Relawan Kemanusiaan selanjutnya.
By : Rivallina Surya Imanuel (Relawan SRK)

