MOTIVASI SEBAGAI OASIS DALAM KERELAWANAN KEMANUSIAAN

Menu Baru yang MengubahPerspektif

            Tidak adahal yang kebetulan dalam perjalanan kehidupan. Bagi sayapribadi, pengalaman mengikuti kegiatan ”Training for Volunteers” yang diadakan oleh Divisi Solidaritas Relawan Kemanusiaan (SRK) Yayasan Kasih Bangsa Surabaya (YKBS) adalah cara Tuhan sendiri membuka perspektif baru dalam melihat maknak erelawanan. Selama kurang lebih tigah ari dua malam (15 – 17 Mei 2026), saya disuguhkan berbagai menu baru dalam kehidupan saya, mulai dari memperdalam cara komunikasi hingga belajar melakukan analisis sosial. Semua yang sudah disajikan dan saya nikmati sungguh telah mengubah perspektif saya dalam melihat kerelawanan yang semula hanyas ebatas kebencanaan menjadi melihat kehidupan secara utuh dan berhubungan satu dengan yang lain.

Komunikasi adalah Hidangan Pembuka

            Penguasaan dasar dalam pelatihan kerelawanan adalah bagaimana kita memiliki keterampilan komunikasi yang baik. Pak Edwi, seorang dosen psikologi Universitas Widya Mandala Surabaya yang menjadi pemateri, mengklasifikasikan komunikasi menjadi tiga, yakni komunikasi intrapersonal (dirisendiri), komunikasi interpersonal (orang lain) dan komunikasi organisasi (tim/kelompok). Dalam komunikasi intrapersonal, sering kali manusia terjebak dalam Emotional/Social Brain menurut teori Triune Brain (Paul MacLean, 1960-an) sehingga hanya bergerak berdasarkan emosi sesaat sehingga mudah bosan dan burnout. Padahal dalam tindakan kerelawanan sangat diperlukan Thinking Brain agar motivasi kita memiliki fondasi yang logis dan kokoh yang tidak mudah tertipu oleh reaksi sesaat Survival Brain (naluri) maupun emosi yang meledak – ledak akibat Emotional Brain. Kesadaran akan hal tersebut yang akan memampukan kita melanjutkan keterampilan komunikasi dengan orang lain (interpersonal) maupun dalam sebuah kelompok atau tim.

            Pada kesempatan dinamika keterampilan komunikasi interpersonal menurut Jon Warner (2002), kami diminta oleh Pak Edwi melakukan pengisian kuisioner yang mengklasifikasikan kecenderungan gaya komunikasi yang terdiri dari komunikasi solutif, rasional, empatik dan suportif. Saya pribadi ternyata masuk dalam kategori kecenderungan komunikasi yang empatik daripada rasional, serta terlalu suportif dan kurang solutif sehingga akan memungkinkan saya terjebak di tempat dan belum dapat menemukan solusi yang tepat sasaran. Melalui hidangan pembuka ini, saya benar-benar telah disadarkan saat ini saya berada dalam kondi siapa dan harus bagaimana dalam dunia kerelawanan.

Analisis Sosial sebagai Menu Utama

            Setelah diajak untuk melatih keterampilan dasar, kemudian kami masuk pada hidangan utama pelatihan ini yaitu kemampuan melakukan analisis sosial (ansos). Kali ini pemateri adalah Pak Andri dan Pak Wisnu yang adalah bagian dari Divisi Wadah Asah Solidaritas (WADAS) YKBS yang diminta untuk memandu kami mendalami keterampilan ansos. Bagi saya yang belum pernah mencicipi pelatihan keterampilan ansos, saya tentu sangat antusias dalam mengikuti setiap prosesnya. Langkah awal, kami diajak memahami perbedaan antara data, fakta, informasi dan asumsi. Sering kali kita selalu terjebak pada asumsi dari pada data dan fakta. Apabila data adalah bahan mentah, maka fakta adalah pengujian terhadap bahan mentah tersebut sehingga setelah diolah dapat menjadi informasi yang bermakna (masakan yang dapat dinikmati) dan bukan hanya sebatas asumsi saja (menu makanan).Setelah mengetahui perbedaan data, fakta, informasi dan asumsi, barulah kami melangkah untuk melatih keterampilan ansos.

            Secara umum langkah-langkah melakukan analisis sosial adalah konversi (memper jelas motivasi, nilai serta pandangan kita) terhadap suatu peristiwa, deskripsi (mengumpulkan data dan fakta), analisis berdasarkan aspek ipoleksosbudhankam (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan) dan langkah terakhir adalah kesimpulan yang sesuai dengan kebutuhan mereka yang terdampak. Hal yang paling sering menjebak relawan adalah melihat suatu peristiwa bencana hanya sebagai takdir, korban sebagai objek, solusi praktis yang tidak sistematis, serta melupakan prinsip keadilan.

Menu utama dari pelatihan ini tentu tidak hanya berhenti pada sebatas teori melainkan kami juga diajak untuk terjun langsung (exposure) untuk melakukan ansos pada daerah yang terjadi gejolak permasalahan. Saya sendiri merasa bersyukur sebab mendapatkan kesempatan untuk terjun di kawasan hutanl ereng Arjuno – Welirang Desa Pencalukan, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur yang hendak mengalami alih fungsi hutan menjadi lokasi pembangunan real estate dan kawasan wisata terpadu oleh salah satu perusahaan swasta di Indonesia.

“Hutan Biarlah Tetap Menjadi Hutan”

            Kalimat tersebut terucap dari Pak Heri, salah satu petani kopi di kawasan hutan Desa Pencalukan yang telah hidup disana sejak tahun 2002 dan ikut andil dalam menjaga kelestarian di hutan tersebut. Beliau menyampaikan kekhawatirannya mengenai rencana alih fungsi hutan yang hendak dilakukan oleh salah satu perusahaan swasta di Indonesia akan dapat menyebabkan bencana ekologis skala besar di daerah Prigen. Hutan tempat Pak Heri berkebun kopi adalah satu-satunya sabuk pertahanan terakhir di kawasan tersebut yang melindungi desa-desa di kawasan Prigen. Salah satu yang menjadi keprihatinan saya adalah ketika berjalan menyusuri hutan, saya sendiri melihat sekawanan monyet yang terusik oleh pembangunan cafe modern di tengah hutan yang mengganggu habitat mereka dan juga hewan yang lain. Proses ansos yang telah kelompok saya lakukan selama tiga jam di kawasan tersebut tentunya jauh dari kata cukup untuk menghasilkan solusi yang bermakna. Namun bagi saya dan kelompok saya, makna yang diberikan proses tersebut adalah diluar ekspektasi kami. Kami belajar memandang diri sebagai bagian yang sangat kecil dari kehidupan ini dan belajar melihat suatu peristiwa dari kaca mata keterampilan ansos.

Menjaga Nyala Api dalam Kerelawanan Kemanusiaan

            Melalui proses pelatihan selama tiga hari dua malam tersebut tentunya akan sangat berbeda dengan apa yang nantinya akan kita hadapi saat terjun langsung kemasyarakat atau peristiwa kebencanaan. Setidaknya pelatihan ini bisa menjadi modal kuat yang akan terus menjaga nyala api kita dalam kerelawanan kemanusiaan. Apabila kelak kita merasa lelah, jenuh, dan kering dalam perjalanan kerelawanan kita, marilah kembali menyegarkan diri lewat motivasi yang menjadi oasis bagi kita. Mengapa kita disini dan nilai apa yang mendorong kita untuk mau hadir sejauh ini dalam karya kemanusiaan kita.

By : Bima Rafaela Dharma (peserta training for volunteers)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *