Perjalanan Menemukan Makna Merawat Ciptaan
Pada hari Jumat, 13 Maret, saya (Elis) mewakili Solidaritas Relawan Kemanusiaan (SRK) mengikuti Laudato Si’ Camp Batch 2 di Sleman, Yogyakarta. Saya berangkat bersama rombongan dari St. Agnes Surabaya. Kami memulai perjalanan tepat pada pukul 07.35 dari Surabaya dan tiba di Sleman pukul 11.45.
Sampai di Sleman, kami disambut dengan sukacita oleh para panitia. Kemudian, kami diberikan pembagian kamar untuk beristirahat terlebih dahulu. Waktu menunjukkan pukul 16.00, peserta berkumpul di aula. Sebelum memulai kegiatan, kami melakukan sesi perkenalan dengan menyebutkan nama, domisili, dan motivasi mengikuti acara ini. Penuh sukacita rasanya dapat berkenalan langsung dengan teman-teman dari berbagai domisili. Kami menemukan dan mempresentasikan beberapa fenomena alam yang terdapat di domisili masing-masing. Hasil dari presentasi ini akan digali secara mendalam pada materi pertama.

Kami memasuki materi pertama yang dibawakan oleh Kak Lilik. Beliau menyampaikan materi terkait “Akar Masalah Krisis Ekologi”. Materi ini dikemas dalam bentuk permainan, di mana kami melakukan brainstorming, mengelompokkan, hingga mengklasifikasikan fenomena alam berdasarkan sebab dan akibatnya. Melalui refleksi materi pertama ini, saya menyadari bahwa solusi krisis ekologi tidak cukup hanya dengan kebijakan atau teknologi, tetapi juga membutuhkan pertobatan ekologis. Laudato Si’ mengajak saya untuk mengembangkan spiritualitas baru yang menekankan kesederhanaan, solidaritas, dan kepedulian terhadap seluruh ciptaan.
Hari kedua saya disambut oleh suasana pagi yang penuh sukacita, diawali dengan berjalan menyusuri pematang sawah sambil mendengarkan kicauan burung. Mengawali hari kedua, peserta diberikan materi oleh Kak Kristien terkait “Spiritual Laudato Si’”. Spiritualitas Laudato Si’ menuntun saya untuk membangun relasi yang lebih utuh dengan Tuhan, sesama, dan seluruh ciptaan. Saya diajak untuk berhenti sejenak dari kesibukan, belajar hening, dan menyadari kehadiran Tuhan dalam keindahan alam, melalui hal-hal sederhana seperti udara yang saya hirup, air yang saya minum, dan kehidupan di sekitar saya.

Saya juga mulai memahami bahwa sikap syukur adalah dasar dari spiritualitas ini. Ketika saya mampu bersyukur, saya tidak lagi melihat alam sebagai sesuatu yang “biasa saja” atau “hak saya”, melainkan sebagai anugerah yang berharga. Dari rasa syukur ini tumbuh tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi.
Namun, refleksi ini juga mengungkapkan tantangan dalam diri saya, seperti kebiasaan konsumtif, kurangnya kepedulian, dan kecenderungan untuk mengutamakan kenyamanan pribadi. Spiritualitas Laudato Si’ menantang saya untuk hidup lebih sederhana dan bijaksana dalam menggunakan sumber daya.

Pada materi ketiga, peserta dibagi dalam dua kelompok besar untuk mengikuti kelas alam. Kelas pertama membahas “Mengenali Kualitas Udara dan Kehidupan Burung” yang dibawakan oleh Prof. Pram. Sesi ini mengajak saya untuk lebih peka terhadap hal-hal sederhana yang sering terabaikan, yaitu kualitas udara yang saya hirup setiap hari dan keberadaan burung di lingkungan sekitar. Kedua hal ini ternyata saling berkaitan dan menjadi tanda nyata kesehatan lingkungan tempat saya hidup.
Saya mulai menyadari bahwa udara bersih bukanlah sesuatu yang bisa dianggap biasa. Ketika udara terasa segar, langit tampak cerah, dan napas terasa ringan, di situlah kehidupan dapat berkembang dengan baik, termasuk kehidupan burung. Sebaliknya, ketika udara tercemar, tidak hanya manusia yang terdampak, tetapi juga makhluk hidup lain yang lebih rentan.

Kehadiran burung menjadi indikator yang menarik. Saat saya melihat atau mendengar kicauan burung, saya merasakan suasana yang hidup dan seimbang. Burung-burung seakan menjadi “penjaga” alam yang memberi tanda bahwa lingkungan masih cukup baik untuk ditinggali. Namun, ketika jumlah burung berkurang atau bahkan tidak terlihat, hal itu bisa menjadi peringatan bahwa ada sesuatu yang tidak beres, seperti kualitas udara yang menurun atau lingkungan yang semakin rusak.
Saya diingatkan bahwa tindakan kecil seperti mengurangi polusi, tidak membakar sampah sembarangan, dan menjaga ruang hijau dapat berdampak besar bagi kualitas udara dan keberlangsungan hidup burung. Saya juga belajar untuk lebih menghargai keberadaan burung sebagai bagian dari keseimbangan ekosistem. Burung bukan sekadar penghuni langit, tetapi juga bagian dari kehidupan yang saling terhubung dengan manusia.

Kelas alam kedua dibawakan oleh Kak Ester dengan tema “Membaca Bahasa Tanah dan Tanaman”. Membaca bahasa tanah dan tanaman berarti belajar peka terhadap tanda-tanda tersebut. Hal ini bukan sekadar kemampuan ilmiah, tetapi juga sikap batin berupa kesediaan untuk mendengarkan dengan hati. Tanah yang subur dan tanaman yang tumbuh baik mencerminkan harmoni, kerja sama, dan penghormatan manusia terhadap alam. Sebaliknya, kerusakan menjadi cermin dari keserakahan, eksploitasi, dan ketidakpedulian.
Kelas alam ini mengajak kita untuk bertobat secara ekologis. Saya diundang untuk mengubah cara pandang dari “menguasai” menjadi “merawat”. Membaca bahasa alam berarti memahami bahwa setiap tindakan, seperti membuang sampah sembarangan, penggunaan bahan kimia berlebihan, atau pemborosan sumber daya, akan “diterjemahkan” oleh tanah dan tanaman dalam bentuk dampak nyata.

Lebih dalam lagi, tanah dan tanaman mengajarkan nilai kesabaran dan kesetiaan. Tanah tidak langsung memberikan hasil; ia membutuhkan waktu, perhatian, dan perawatan. Tanaman tumbuh perlahan, mengingatkan manusia bahwa kehidupan tidak selalu tentang hasil instan, melainkan tentang proses yang berkelanjutan.
Materi keempat yang dibawakan oleh Romo Marten terkait “Tambang, Agama, dan Ekologi Integral” mengajak saya untuk melihat bahwa aktivitas pertambangan tidak sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga menyentuh dimensi moral, spiritual, dan keberlanjutan hidup. Dalam banyak kasus, eksploitasi sumber daya alam sering mengabaikan keseimbangan ekosistem serta hak-hak masyarakat lokal, sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial. Agama sebagai sumber nilai etis seharusnya berperan kritis dalam mengingatkan manusia akan tanggung jawabnya sebagai penjaga ciptaan, bukan sekadar penguasa alam. Konsep ekologi integral menegaskan bahwa manusia, alam, dan dimensi spiritual saling terhubung, sehingga kerusakan lingkungan pada akhirnya juga merusak kemanusiaan itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih holistik dan berkeadilan, di mana kegiatan tambang dijalankan dengan kesadaran etis, keberpihakan pada kelestarian lingkungan, serta penghormatan terhadap martabat manusia.

Materi kelima yang dibawakan oleh Kak Bukhi terkait “Sadar Pangan dan Gaya Hidup Relevan” menekankan pentingnya kesadaran atas apa yang saya konsumsi serta dampaknya bagi tubuh, lingkungan, dan keberlanjutan bumi. Sadar pangan bukan hanya soal memilih makanan sehat, tetapi juga memahami asal-usulnya, proses produksinya, dan jejak ekologis yang ditinggalkan. Gaya hidup relevan berarti hidup secukupnya, tidak berlebihan, serta selaras dengan daya dukung alam. Bumi Bhuvana mengingatkan bahwa perubahan besar dimulai dari pilihan kecil sehari-hari, seperti memilih pangan lokal, mengurangi limbah, dan menghargai alam. Dengan kesadaran ini, manusia tidak hanya menjaga kesehatannya, tetapi juga turut merawat bumi sebagai rumah bersama.

Terakhir, peserta diberikan Tantangan 21 Hari Merawat Bumi. Tantangan ini dimulai dari langkah kecil yang konsisten untuk melatih kepekaan kita sebagai manusia. Merawat bumi bukanlah tugas sesaat, melainkan gaya hidup yang perlu dihidupi terus-menerus. Dengan disiplin kecil yang dilakukan secara berulang, saya belajar bahwa merawat bumi adalah bentuk tanggung jawab sekaligus ungkapan syukur atas kehidupan yang telah diberikan.
By : Elisabeth Cresentiani Trinitas (Relawan SRK)

